SIMPLE, AKURAT, APLIKATIF

STIFIn adalah Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting

Sejarah Pemikiran Konsep STIFIn



Konsep merupakan sekumpulan teori yang saling berhubungan. Antara satu teori dengan teori lainnya memiliki ‘benang merah’. Sedangkan teori merupakan sekumpulan asumsi yang saling berkaitan yang memungkinkan ilmuwan menggunakan pemikiran logika deduktif untuk merumuskan hipotesis yang bisa diuji. Asumsi tunggal tidak dapat dijadikan sebuah syarat dari sebuah teori, sehingga diperlukan asumsi-asumsi lain yang saling berkaitan, memiliki konsistensi internal dan hipotesisnya mampu diujicobakan dengan hasil yang signifikan. Komponen dalam teori sendiri merupakan suatu data dan fakta yang seolah-olah sudah terbukti kebenarannya melalui pengalaman empiris dari sampel asumsi. Hal ini merupakan langkah yang paling mudah bagi ilmuwan untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan.

Lahirnya teori-teori kepribadian, tidak terlepas dari sejarah hidup penemunya yang di dalamnya terdapat komponen pengalaman empiris yang dialami. Kepribadian merupakan suatu bentuk pencitraan diri individu yang muncul melalui adanya pola sifat dan karakteristik yang bersifat permanen dan konsisten pada perilaku individunya. Sifat (trait) sendiri merupakan faktor penyebab adanya perbedaan antar individu dalam berperilaku, konsistensi perilaku dari waktu ke waktu dan stabilitas perilaku dalam berbagai situasi. Pola sifat dapat berbeda untuk masing-masing individu, namun bisa jadi sama dan unik untuk beberapa kelompok manusia bahkan bisa dimiliki oleh semua manusia. Karakteristik yang muncul merupakan kualitas yang melekat kepada diri individu tersebut, seperti halnya temperamen, fisik dan kecerdasan.

Dalam sejarah yang terjadi pada tokoh psikoanalisis Sigmund Freud, yang berprofesi sebagai seorang dokter. Pengalamannya menggunakan kokain yang membuat ia merasakan rasa nyaman yang luar biasa dan membebaskannya dari depresi yang dideritanya. Ia mengungkapkan bahwa dorongan seks dan agresi merupakan hal yang paling penting dalam teorinya, bahwa kedua hal tersebut merupakan hasil dari pengalamannya berhubungan dengan sejumlah pasien, analisis terhadap mimpinya sendiri dan bacaannya yang luas terhadap ilmu pengetahuan dan humaniora. Freud belum pernah menggunakan metode penelitian yang dapat dikatakan sebagai sebuah metode yang ilmiah, namun hingga kini teorinya masih menjadi pegangan untuk sebagian besar ilmuwan psikologi dan psikolog.

Begitu halnya yang terjadi pada Alfred Adler, yang menggunakan pegalaman pribadinya sebagai landasan teoritisnya dalam psikologi individual. Adler merupakan seorang murid Freud yang kemudian mendeklarasikan diri menjadi teoritikus yang berseberangan dengan teori Freud. Hal serupa juga dialami oleh Carl Gustav Jung. penemu teori psikologi analitis. Pengalaman hidup Jung inilah yang menjadi landasan teorinya bahwa setiap orang memiliki pengalaman emosional yang diturunkan dari leluhurnya yang ia sebut dengan istilah ketidaksadaran kolektif (collective unconsciousness) yang berkembang menjadi arketipe-arketipe. Arketipe sendiri merupakan gagasan mengenai realisasi diri yang hanya bisa dicapai melalui adanya keseimbangan antara dorongan-dorongan kepribadian yang berlawanan dan memiliki fungsi yang terpisah. Pandangan Jung ini yang kemudian menjadi salah satu rujukan dari konsep kepribadian Farid Poniman.

Keseriusan Farid Poniman merumuskan Konsep STIFIn dimulai dari panggilan tugas perusahaannya untuk menekuni bidang sumberdaya manusia. Sejak mendirikan perusahaan training yang dibranding sebagai Kubik Leadership bersama dua orang kawannya, Indrawan Nugroho dan Jamil Azzaini di tahun 1999, mulailah ia menulis buku dan menyusun modul pelatihan yang berbasiskan kepada karakter personaliti pesertanya. Konsep inilah yang kemudian diberi nama STIFIn. Di Kubik inilah awal mula dari proses risetnya untuk membuktikan konsep pemikirannya.

Pencetus awalnya, dimulai sejak mengikuti tes MBTI pada tahun 1989 di kantornya ketika ia masih bekerja di PT. Procter & Gambler Indonesia. Hasil tesnya adalah tipe INTJ. Pada tahun 1995 ia mengikuti tes yang kedua kali dengan hasil yang berubah menjadi ENTP. Menggunakan tes MBTI selain harus mengingat tentang 16 kotak, juga peluang untuk hasilnya berubah-ubah sangat besar. Demikian juga dengan jenis tes-tes yang lain. Terbersitlah untuk membangun alat tes yang lebih sederhana namun jitu. Apalagi jika kemudian hasilnya stabil dan tidak berubah-ubah.

Sejarah Konsep STIFIn dimulai dari training-training yang diselenggarakan oleh Kubik Leadership. Pada setiap sesi-sesi training Kubik itulah riset tentang STIFIn dimulai. Sebelum sesi pertama dimulai peserta training diminta mengisi kuesioner untuk disimpulkan jenis personalitinya. Sesi-sesi berikutnya sudah merupakan proses koreksi dan afirmasi terhadap Konsep STIFIn yang dibenturkan dengan apa yang dirasakan oleh peserta. Itulah mengapa pada buku best seller karya pertamanya yang berjudul Kubik Leadership konsep kepribadiannya masih bernama STIF, tanpa In. Kesadaran menemukan keberadaan kepribadian In itu datang dari hasil observasinya khusus terhadap istrinya yang memiliki kepribadian ternyata bukan termasuk di antara yang empat. Sejak itulah kemudian konsep pemikirannya dianggap sudah utuh menjadi STIFIn tanpa memerlukan penyempurnaan lagi. Memang kemudian masih banyak yang skeptis, jangan-jangan nanti masih ada tambahan lagi sehingga tidak layak lagi bernama STIFIn. Maka hingga buku ini diterbitkan Farid Poniman menegaskan bahwa konsep Lima Mesin Kecerdasan dan Sembilan Personaliti STIFIn dianggap telah final.

Tes STIFIn yang sekarang, telah menyebar luas di masyarakat. Hingga tanggal 12 Juni 2012 jam 13.00 WIB jumlah peserta tes yang tercatat di server STIFIn Kantor Pusat sudah mencapai angka 60.403 peserta tes. Sebagian besar peserta tes, bahkan lebih dari 95% dari mereka, mengatakan bahwa hasil tesnya “gua banget!”, “aku sekali!”, “koq bisa pas..sih?”, dan komentar-komentar sejenisnya. Hal ini berarti validitasnya sangat tinggi. Kemudian dari mereka yang telah dites kemudain terang-terangan atau diam-diam melakukan tes kembali, hasilnya pun cenderung kukuh, tidak berubah. Jika mengacu kepada hasil uji reliabilitasnya terbaru pada bulan Oktober 2011 pada 352 sampel dan kemudian pada sampel yang sama dilakukan retes pada minimal sebulan kemudian hasilnya terdapat sebanyak 3 orang yang berubah. Hal ini bermakna reliabilitas Tes STIFIn mencapai lebih dari 95%.

Sesungguhnya letak keunggulan STIFIn memang pada konsepnya yang simpel dan akurat, serta penggunaannya yang sangat aplikatif pada semua bidang, keilmuan ataupun keseharian. Sementara konsep lain belum mampu untuk sampai pada peringkat itu. Sebagai contoh, MBTI memiliki tiga kelemahan mendasar, yaitu : 1. Pasangan kutub Perceiving dan Judging seharusnya tidak ada karena kedua sifat tersebut merupakan sifat semu sebagai irisan dua pasang kutub yang lain. Perceiving merupakan persamaan kutub sifat Sensing dan Intuition. Sedangkan Judging merupakan persamaan dua kutub sifat Thinking dan Feeling; 2. Kedudukan sifat introvert dan extrovert tidak sepatutnya disejajarkan dengan fungsi dasar Sensing, Thinking, Intuition, dan Feeling karena introvert dan ekstrovert sekedar merupakan drive belum sampai pada tahap berperan sebagai fungsi dasar; 3. Tidak memasukkan Instinct sebagai sifat yang memiliki kesetadaan dengan empat fungsi dasar lainnya.

Kelemahan yang hampir serupa juga terjadi pada Teori 16 Temperamen Keirsey. Kerumitan menjadi 16 jenis temperamen menjauhi keperluan simplifikasi. Padahal sumber teori temperamen itu asalnya mengkompilasi teori-teori lama dari Hippocrates (yang membagi 4 sifat), Galenus (yang membagi 4 sifat), dan Kretschmer (yang juga membagi 4 sifat). Sementara Konsep STIFIn mempermudah menyepadankan teori-teori lama tersebut dengan Konsep STIFIn itu sendiri, sebagaimana terdapat pada tabel halaman 20 pada buku ini.

Namun setelah Keirsey menyederhanakan kembali menjadi 4 Temperamen Dasar yaitu Artisan, Guardian, Rational, dan Idealist kembali menjadi lebih mudah disepadankan dengan konsep STIFIn. Berdasarkan Kiersey yang telah diintisarikan menjadi 4 temperamen dasar (dalam instrumen KTS; Kiersey Temperament Sorter) dikompilasi dengan Model Lima Faktor (FFM; Five Factor Model) dan NEO Personality Inventory Revised (NEO-PR-R) telah dibangun sebuah instrumen baru yang bernama Inventori Personaliti STIFIn sebagaimana terdapat pada Lampiran 2 buku STIFIn Personality cetakan Mei 2012. Untuk membuktikan keshahihan dari Konsep STIFIn, skala inventori yang lebih terstruktur untuk pengujian validitas dan reliabilitas mulai disusun dan diujicobakan sejak tahun 2011 oleh Profesor Dr. Mohammed Zin bin Nordin dari Universiti Sultan Idris Malaysia, Dr. Wan Shahrazad Wan Sulaiman dan Dr. Mohd Suhaimi Mohamad dari Universiti Kebangsaan Malaysia dan Profesor Dr. Kumaidi dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Keseluruhan hasil pergulatan pemikiran Farid Poniman pada dasarnya bertumpu pada kemampuannya menemukan korelasi antara teori fungsi dasar kecerdasan tunggal Carl Gustav Jung yang statis dengan teori belahan otak Ned Herrmann, strata otak Triune Paul MacLean, konsep teori medan yang konstruktif dinamis dan neurosains yang kemudian ia kompilasikan menjadi teori kepribadian STIFIn. Sedangkan teori-teori yang lain merupakan rujukan di tahap pengembangannya. Dan ternyata adanya puluhan teori-teori lain itu menjadi semakin mengafirmasi kesimpulan dan keaplikatifan Konsep STIFIn.

Beberapa alasan mengapa konsep ini telah dianggap final yaitu : 1. Pembagian menjadi Lima Mesin Kecerdasa dan Sembilan Personaliti Genetik mencakup keseluruhan jenis kecerdasan dan kepribadian yang ada. Artinya menurut konsep STIFIn tidak akan ada jenis kecerdasan keenam dan tidak akan ada personaliti genetik yang kesepuluh; 2. Pembagian tersebut telah mengkategorikan pembagian kecerdasan dan personaliti genetik secara telak (distinctive). Antara yang satu dengan yang lain baik definisi, batasan sifat-sifat, dan ukuran-ukuran psikometriknya dapat direntangkan secara jelas. Tidak ada wilayah abu-abu; 3. Konsep STIFIn dapat menunjukkan lokasi organ fisik yang menjadi penggerak kecerdasan dan kepribadian setiap orang. Keunggulan Konsep STIFIn justru terletak pada kelogisannya dalam menjelaskan cara kerja setiap organ fisik yang menjadi instrumen sumber kecerdasan dan kepribadian.

Konsep STIFIn kemudian akan terus berkembang tidak hanya untuk pengembangan profesi semata, namun sudah mengarah kepada seluruh elemen kehidupan individu, baik dalam proses learning, profession, parenting, couple, politic, human resources, dan bidang-bidang lainnya. Tema-tema di atas bahkan sudah disiapkan modul-modul training tematik ala STIFIn. Konsep STIFIn bahkan dapat diaplikasikan untuk anak berkebutuhan khusus serta terapi masalah-masalah kejiwaan dan kesehatan fisik. Juga dengan menggunakan Konsep STIFIn para dokter medis akan lebih mudah membuat diagnosa penyakit yang lebih tajam. Pendek kata, STIFIn sudah mulai diperkenalkan kepada publik di Indonesia, bukan hanya terbatas kepada klien-klien peserta training saja, tetapi aplikatif hampir pada semua bidang keilmuan

Dengan mudah Farid Poniman menggambarkan bahwa Konsep STIFIn lebih aplikatif dari Konsep Multiple Intellegence (MI) cukup menggunakan metafora yang sederhana. Yaitu dalam keluarga. Menurut Konsep STIFIn setiap orang memiliki seluruh otak namun hanya ada satu yang memimpin. “A specialist in the construction of the whole” kata Daoed Joesoef. Dalam keluarga terdapat bapak-ibu-anak. Jika sang bapak maju maka semua keluar maju. Sehingga konsentrasi perhatian keluarga diprioritaskan pada sang bapak. Jika sang bapak maju akan besar peluang semua anggota keluarga ikut maju. Konsep kecerdasan tunggal yang dipakai STIFIn lebih aplikatif karena ternyata kecerdasan dominan (seperti sang bapak) mampu memiliki daya jalar yang lebih baik. Sementaa kalau menurut Konsep MI investasi yang dimiliki keluarga disebar kepada semuanya, sehingga postur investasi dalam keluarga terpolarisasi. Ingat bahwa kecerdasan yang lemah (dimetaforkan ibu-anak) tidak memiliki daya jalar sebagaimana kecerdasan dominan (dimetaforkan bapak).

Pada akhirnya, fakta keseharian lebih mudah menggunakan pendekatan ala STIFIn, yaitu : Sistem Operasi dominan disyukuri dengan investasi yang besar, sedangkan kecerdasan yang bukan sistem operasi dibiarkan berkembang secara alamiah. Sebuah pertanyaan besar ketika Tuhan memberi resep untuk bersyukur dengan ilmu yang betul. Maka itu sama dengan menyuruh manusia untuk menemukan ‘karpet-merah’ nya dengan jitu. Semua manusia dalam keadaan apapun memiliki jalan sukses sendiri-sendiri semudah dan semeriah menjalani ‘karpet-merah’nya. Itulah surga dunianya. “Barangsiapa tidak menemukan surga dunianya, maka ia tidak akan memasuki surga akhirat-Nya” kata Ibnu Taimiyah. Konsep STIFIn diniatkan sebagai amal kifayah untuk memudahkan manusia menemukan jalan SuksesMulianya. Sebagaimana seruan yang disebut beberapa kali dalam Al Quran (Surat Az Zumar 39, Al An’am 135, Hud 93 & 121) : “…i’maluu ‘alaa makaanatikum…” atau berbuatlah sesuai dengan keberadaan-terbaikmu. Konsep STIFIn diharapkan menjadi bagian dari pencerahan agar manusia mampu menjalani keberadaan-terbaiknya. Siapa saja!

Diambil dari buku STIFIn Personality cetakan Mei 2012 hal. 137-141. Editor : Khotimatun Na’imah

Thanks for reading Sejarah Pemikiran Konsep STIFIn. Please share...!

About Ade Machnun S

Previous
« Prev Post
    Blogger Comment
    Facebook Comment

No Spam, Please...!