SIMPLE, AKURAT, APLIKATIF

STIFIn adalah Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting

TELAAH #7, #8, #9

Cara Merenung
TELAAH 15 Jan 2018


Jika ajaran kebenaran telah berfungsi dengan baik kepada banyak orang, namun gagal berfungsi terhadap dirinya bukan ajaran itu yang salah. Betul orang tersebut sudah merasa rutin subuh berjamaah, kerja setengah mati, silaturrahim keilmuan ke banyak founder, perlakukan keluarga dengan baik, namun semua itu tidak cukup untuk membuat profesinya moncer. Masih gamang. Apa yang salah?

Kerja keras lebih diefektifkan oleh kerja cerdas, dan akan lebih berdentum jika diikuti kerja ikhlas. Indikator seseorang telah melakukan ketiganya adalah adanya keberkahan dalam setiap langkahnya. Setelah tuntas dengan yang satu ia dapat merangkul sepuluh kebaikan di depannya. Selalu terus begitu. Ia bertumbuh. Tapi kenapa saya tidak begitu? Mulailah merenung lebih dalam. Jangan-jangan masih belum berterima kasih kepada Allah. Belum berterima kasih kepada manusia. Jangan-jangan seperti pahlawan kesiangan. Merasa sudah ikhlas, tetapi sesungguhnya masih jauh dari ikhlas. Berilmu sudah, bersyukur belum. Maka merenunglah lebih dalam lagi.
Ini adalah nasehat untuk diri saya sendiri.

Farid Poniman
Penemu STIFIn

===

Kimia Cinta
TELAAH 16 Jan 2018


Ketika seseorang jatuh cinta kepada lawan jenisnya ia tidak bisa memilih. Karunia telah datang. Setiap berjumpa dengan orang tersebut jantung berdegup lebih kencang.

Cinta bukan sayang. Seberat apapun rasa sayang belum tentu sampai jatuh cinta. Ada peristiwa kimia yang bergejolak jika sudah melibatkan cinta. Kata Gombloh, tahi kucing jadi rasa coklat.

Ternyata cinta punya logika sendiri yang bisa disistematiskan. Betul, bahwa cinta tidak bisa memilih. Sudah dipasang-pasangkan. Jika sesuai pasangannya tersebut maka reaksi kimia tubuh terjadi. Ilmu STIFIn dapat membantu melihat sistematikanya. Kami menyebutnya Score of Love. Dan setiap Score of Love memiliki konsekuensinya masing-masing.

Farid Poniman
Penemu STIFIn

===

Empat Matra
TELAAH 17 Jan 2018



Pertama, Matra Personaliti. Jika anda sudah tahu sedalam-dalamnya tentang diri anda, sebagaimana pegiat STIFIn mengenali dirinya, itu berarti anda masih berada di matra pertama.

Kedua, Matra Mentalitas. Menggembleng 'aku' yang sudah dikenali sedalam-dalamnya tersebut menjadi 'aku yang hebat'. Memiliki sikap, karakter, kompetensi unggulan.

Ketiga, Matra Moralitas. Pada level ini persoalan 'aku' sudah selesai. Selalu berpihak bukan lagi pada kepentingan 'aku' melainkan kepentingan 'kita'. Seorang negarawan akan terbebas dari kepentingan partisan, karena kepentingan bangsa dan negara lebih utama. Negarawan selayaknya outstandingnya di matra moralitas.

Keempat, Matra Spiritualitas. Matra tertinggi dimana segala laku hanya demi Tuhanku. Ini berada pada rentang yang paling luas. Mulai dari nawaitu basmalah hingga syukur hamdalah selalu ditingkahi dengan mengingat Allah

Matra-matra tersebut merupakan tangga-tangga tahapan. Teroris belum mendaki matra tangga demi tangga sudah langsung ke matra spiritual. Akhirnya memberi kerusakan dikedepankan dibanding berbagi rahmah. Padahal tentang aku dan kitanya belum khatam.

Menaiki tangga-tangga matra tersebut menjadi lebih mudah jika dituntun STIFIn.

Farid Poniman
Penemu STIFIn

#STIFIn #Personaliti #Telaah #FaridPoniman

sumber:  @STIFInPusat

Thanks for reading TELAAH #7, #8, #9. Please share...!

About Unknown

Previous
« Prev Post
    Blogger Comment
    Facebook Comment

No Spam, Please...!